Selasa, 10 Agustus 2010

EPILOG dari Buku Totto Chan's Children

Semua anak yang kutemuiSangatlah cantikAnak-anak yang tertawa,anak-anak yang jail,Anak perempuan kecil yang menggendong bayi di punggung,Anak laki-laki yang memamerkan kemampuan bersalto,Anak-anak yang bernyanyi bersamaku,Anak-anak yang mengikutiku ke mana-mana.
Aku bertemu segala macam anak.
Juga anak-anak yang orangtua
Serta saudara-saudaranya
Dibunuh tepat di depan mata mereka.
Anak-anak yang kaki dan tangannya dipotong oleh tentara gerilya
Anak-anak perempuan yang orangtuanya hilang,
Meninggalkan mereka bersama adik bayi yang harus dirawat.
Anak-anak lelaki yang bersedih karena teman-teman,
Juga binatang piaraan mereka mati akibat kelaparan.
Anak-anak yang rumah dan sekolahnya hancur.
Yatim piatu,yang digiring dari satu kamp ke kamp lain.
Anak-anak yang bekerja sebagai pelacur untuk menyokong keluarga.
Namun,
Bahkan dalam situasi semengerikan itu,
Mereka berkata tidak satu anak pun memilih bunuh diri.
Tidak satu pun, di kamp pengungsi mana pun,
Meskipun mereka tidak memiliki masa depan dan harapan.
Aku menanyakan hal ini ke mana pun aku pergi.
"Tidakkah anak-anak ini bunuh diri?"
"Tidak, tidak satu pun."
Dan aku menangis.
Saat aku melihat bayi-bayi yang kurus,
Hampir seperti tengkorak hidup, berjalan lewat
Dengan sekuat tenaga dan keinginan,
Aku menangis.
Aku ingin berteriak keras-keras,
"Di Jepang, anak-anak bunuh diri!"
Apakah ada yang lebih meyedihkan?
Apakah arti kemakmuran? Apa itu kelimpahan?
Setelah bertemu berbagai macam anak,
Aku ingin mengatakan hal pada anak-anak Jepang:
Jika kalian sedih melihat anak-anak di negara berkembang,
Yang kalian temui di dalam buku ini,
Dan ingin membantu mereka,
Katakan sekarang kepada teman
yang duduk di sebelahmu,
"Mari berdamai.
Mari bergandengan tangan dan menjalani hidup
bersama."
Di sekolah dasarku -- Totto-chan -- ada beberapa
murid yang cacat.
Sahabatku adalah anak laki-laki penderita polio.
Tapi tak sekali pun kepala sekolah berkata,
"Bersikap baiklah pada anak-anak itu," atau "Bantulah mereka."
Yang selalu ia katakan adalah,
"semua orang sama.Marilah kita semua bersahabat."
Hanya itu.
Jadi kami melakukan hal bersama-sama.
Setiap orang butuh sahabat, teman untuk tertawa.
Anak-anak yang kelaparan pun ingin jadi temanmu.
Itulah yang ingin kusampaikan padamu.

Sabtu, 17 April 2010

Budaya atau Trend??

(Studi kasus teknologi terhadap faktor sosial)

Masih terbayang dengan baik, bagaimana ketika semasa saya kecil dahulu, selalu dididik untuk taat pada orangtua, guru, dan semua orang yang lebih tua. Menghargai siapa saja teman sebaya saya, dan tentunya menjaga dan menyayangi yang lebih muda. Pola pikir dan kebiasaan yang selalu saja diajarkan dan ditegaskan menjadi budaya bagi saya untuk menjalani aktifitas keseharian.
Di kala itu pula, saya bisa merasakan -- meski tidak tahu mendalam tentang ilmu sosiologi -- bahwa orang-orang masa itu saling menghargai, toleransi, gotongroyong, guyub dan (tentunya bagi saya, suasana saat itu) sangat menyenangkan. Saya keluar rumah dan bermain dengan teman-teman, disaat waktu luang saya sepulang sekolah atau selesai mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolah. Tidak ada kesibukan individu, yang lebih disukai adalah kegiatan bersama, bermain hide and seek (bahasa gaulnya : delik-delikan), gobak sodor, dan masih banyak lagi.
Namun dengan adanya teknologi dan produk mesin entertainment semacam televisi, game, internet, dan sekawannya. Serasa menjadi guru revolusioner baru bab pergaulan di kalangan anak-anak hingga remaja, tak terlepas pula -- tentunya kalangan orang dewasa -- dengan santainya mengikuti pelajaran baru itu tentang etika pergaulan.
Dimana kehadiran guru virtual tersebut dengan mudahnya mengajarkan kekerasan, ketidak sopanan, trend buka-bukaan yang -- secara naluriah -- tidak cocok dengan budaya asli bangsa kita. Guru virtual tersebut pandai berakting, pandai menjadi trendsetter. Sehingga anak-anak dan remaja saat ini lebih suka berdiam dirumah berjam-jam dengan playstation, x-box, lepi atau PC -- yang bisa digunakan untuk game online atau fesbukan --  sendiri.
Sehingga rating pemakaian internet dan ponsel berbasis online meningkat, ini pula yang dilirik oleh para businessman. Banyak yang bermain di dunia virtual, tanpa harus mengeluarkan biaya banyak, kita bisa 'berjumpa' dengan sodara d ujung dunia.
Pemanfaatan ini, berdampak pula pada sepinya kantorpos yang dulunya sebagai jalur favorit komunikasi jarak jauh.

Semoga teknologi tetap sebagai 'pembantu' memudahkan pekerjaan manusia, tanpa mengurangi unsur budaya bangsa.

Minggu, 04 April 2010

Markus,apaan tuh?

Kini ini aku mendapat kenalan baru,si MarKus namanya,aku tak tahu dari mana asalnya, siapa dirinya, anak siapa??Tapi setau aku, dia yang akhir-akhir ini lg sering membuat top hits di infotainment gosip politik dan berita,haha. Jadinya pengen tau, sebenarnya siapa sih MarKus itu?kok bisa-bisanya sampai mencuri hati masyarakat dan mengalahkan perhatian tentang pilkada, padahal kalo dipikir-pikir, pilkada tidak kalah penting demi memperbaiki kondisi bangsa dan memajukan tanah air kita (yang katanya) tercinta ini.Sehebat apa sih si MarKus itu? apa sejago si Pitung?ato kayak si Kompeni??Hmm, pusing kepalaku dibuatnya.
Setelah membaca-baca, mendengar, melihat dan (tidak ikut) melakukan, akhirnya aku sedikit mengerti tentang si MarKus.Ternyata MarKus adalah nama samaran dari Makelar Kasus yang saat ini lagi ramai, kalau tidak salah ingat, mulai dari Cicak-Buaya hingga yang terakhir terkait Apa kata Dunia (tentang pajak)? Disebut-sebut juga pahlawan (tapi tidak bertopeng) yakni Susno Duadji sebagai pengungkap MarKus ditubuh kepolisian, yang notabene beliau tergolong (bukan) jabatan biasa di kepolisian.Hmm, jadi kepengen tau lebih jauh nie, ayo kita kuliti(jangan anarkis)si MarKus, mantab gan..

Definisi MarKus (berdasar hasil meguru ke Mbah Google)
Kalo kita bongkar, si Markus memiliki nama depan Makelar dan nama marganya Kasus (namanya juga Kasus,pasti masalah). Berdasarkan Wikipedia, makelar sendiri adalah orang yang bertindak sebagai penghubung antara 2 belah pihak yang berkepentingan. Pada praktiknya lebih banyak pada pihak-pihak yang akan melakukan jual beli.Makelar bertugas menjembatani kepentingan antara pihak penjual dan pembeli. Dalam praktik kerja di lapangan banyak berbagai bentuk cara kerja dari seorang makelar. Dari yang ingin untung sendiri dengan mengorbankan kepentingan salah satu pihak (seperti mark up harga jual barang dari penjual) dan tidak bertanggung jawab atas risiko yang mungkin terjadi, sampai yang profesional dengan benar-benar menjembatani kepentingan pihak-pihak yang dihubungkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Artikel lain (oleh Richard Hamonangan Saragih,red) mengatakan "Makelar yang sudah mengenal baik si pembeli dan si penjual, maka keberhasilan akan sebuah transaksi akan semakin besar".
Dengan pengertian makelar diatas, maka untuk pengertian Makelar Kasus, atau MarKus dapat diartikan sebagai seorang perantara yang mengenal penjahat sekaligus memiliki hubungan dengan penegak keadilan (POLRI, KPK, MA,jaksa dan sekawannya) dan biasanya MarKus memberikan informasi yang ia dapat tentang penjahat, dan kemudian MarKus akan memberitahukan informasi tersebut kepada para penegak hukum. Bisa juga si MarKus memberikan bantuan kepada penjahat (tentunya dengan "harga" yang pantas) dengan dalih memiliki backup dari pihak penegak hukum.
Jika demikian, dapat disinyalir, Markus adalah orang luar yang 'kebetulan' mengenal kedua belah pihak, bisa jadi juga oknum dalam pihak penegak hukum yang 'mengenal' penjahat, atau malah oknum itu sendiri yang menjadi penjahatnya (kalau sudah begini, apa kata dunia?). Dan mungkin masih banyak lagi perwujudan si MarKus yang punya seribu wajah ini ^_^.

Latar belakang si MarKus (dari berbagai sudut pandang)
sejumlah lembaga swadaya masyarakat sedang menyoroti adanya kebiasaan rekayasa kasus pidana oleh kepolisian. Artinya, sejumlah perkara pidana diada-adakan untuk menjebloskan orang, yang motifnya masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Entah untuk suatu tujuan komersial, entah untuk tujuan lebih serius semisal motif politik atau apa, entah sekedar untuk menambah catatan prestasi pemecahan kasus demi kenaikan pangkat.
Telah beredar berbagai cerita di tengah masyarakat, bahwa untuk masuk menjadi anggota kepolisian atau sekolah pendidikan kepolisian dari yang terendah hingga sekolah yang tertinggi sekaligus, terdapat tarif yang wajib untuk dibayar. Naik pangkat pun ada bayarannya, dan juga jabatan strategis pun juga terdapat nilai harganya. Banyak orang yang menyebut angka ratusan juta rupiah hingga milyaran rupiah untuk membayar jabatan-jabatan tersebut. Apabila cerita masyarakat tersebut memang nyata, polisi sendiri harus melewati fase ivestasi internal semacam itu terlebih dahulu. Maka muncul apa yang kemudian bisa disebutkan sebagai dampak eksternal.
Dalam situasi seperti inilah tampil peranan ‘dukun perkara’ yang oleh publik kini dinamai makelar kasus atau MarKus. Tentu saja pihak kepolisian secara resmi dari waktu ke waktu selalu membantah, tetapi pengalaman sehari-hari dari orang-orang yang pernah berurusan dengan instansi itu mencium aroma yang lain. Setiap kali ada yang mengadukan ketidakberesan penanganan polisi yang dialaminya, cenderung untuk kalah bahkan sangat terpojokkan. Karena risikonya berat, banyak yang memilih untuk menerima nasib saja. Dengan demikian, untuk sementara nasib kisah-kisah itu hanya bagaikan cerita hantu : Bau kemenyan dukunnya ada, bau amis darah campur harum bunga kemboja tercium, sebaran horornya terasa, bahkan kerapkali penggambaran ciri sosok hantunya pun ada. Tetapi setiap kali itu diceritakan terbuka, meski yang mendengarnya bisa juga tertular rasa takut, namun selanjutnya apa yang bisa dilakukan karena sulit untuk memvisualisasikannya ke dalam kenyataan.
Satuan Petugas(SatGas) Pemberantasan Mafia Hukum bentukan presiden, terus berkoordinasi dengan Mahkamah Agung dan Mabes Polri. Setelah diketahui bahwa kasus ini melibatkan oknum dalam pihak Kepolisian,kejaksaan dan peradilan pajak.Hal ini diketahui berdasarkan pengakuan aparat petugas pajak (Gayus Tambunan) sebelum kabur keluar negeri.Satgas juga menemukan indikasi bahwa posisi di wilayah hukum serta peradilan rentan akan terjadinya mafia hukum karena lemahnya pengawasan.

Track Record (beberapa) MarKus di Indonesia
Makelar kasus di tubuh polri dan kejaksaan jamak dimaklumi publik. Yang monumental dan terkuak ke publik yaitu Artalyta Suryani yang tertangkap basah menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan sebesar US$ 660 ribu atau sekitar Rp 6 miliar yang diduga terkait kasus BLBI I.Kemudian dilanjut dengan kisruh kasus Chandra-Bibit juga tak terlepas munculnya makelar kasus (Markus) yaitu Ari Muladi dan Edi Soemarsono dalam dugaan suap yang dilakukan Anggoro Widjojo terkait kasus korupsi PT Masaro Radiokom. Dan yang terakhir erkait dengan skandal kasus penggelapan pajak senilai Rp25 miliar. Kasus ini melibatkan pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan, yang kini berstatus terdakwa dan sedang disidangkan di PN Tangerang.
Dan disebut-sebut terlibat pula petinggi di tubuh Polri,mereka adalah Brigjen Edmon Ilyas, yang sekarang menjabat Kapolda Lampung, dan Brigjen Raja Erizman, yang kini menduduki posisi Direktur II Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri.dan mungkin masih banyak lagi MarKus-MarKus lain yang masih bersembunyi dan merugikan di negeri ini.Hukum di negeri ini busuk karena keadilan dapat diperjualbelikan. Itu sebabnya, semua lembaga penegak hukum di negeri ini terkenal korup. Itu pula yang membuat Indonesia memperoleh predikat negara terkorup se-Asia Pasifik menurut versi terbaru Political and Economic Risk Consultancy (PERC).

Tawaran Solusi tentang MarKus
Makelar kasus adalah kejahatan luar biasa yang tentunya membutuhkan upaya penyelesaian yang luar biasa pula. Friedmen mengungkapkan bahwa bagaimanapun penegakan hukum sebuah bangsa mutlak ditentukan oleh substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum negara setempat. Adapun upaya yang seharusnya dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Diperlukan upaya hukum luar biasa untuk memberantas kejahatan luar biasa, makelar kasus dan mafia peradilan. Penyadapan oleh KPK perlu didukung tidak hanya untuk mengungkap kasus korupsi an sich namun juga praktek makelar kasus dan mafia peradilan.

2. Reformasi aturan hukum yang ada, Harus disusun aturan mengenai peberantasan mafia peradilan, khususnya mengenai pembuktian dan alat bukti yang berkenaan dengan praktek makelar kasus dan mafia peradilan. Pembuktian terbalik dapat digunakan sebagai alternatif pembuktian pelaku mafia kasus.

3. Bersihkan semua lembaga penegak Hukum mulai dari Kepolisian, Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksanaan, Pengadilan dari seluruh tingkatan, demikian pula lembaga pofesi advokat yang mencoba bermain dalam makelar kasus maupun mafia peradilan. Berikan sanksi pidana berat bahkan ancaman hukuman mati bagi aparat penegak hukum yang melakukan praktek makelar kasus maupun mafia peradilan. Pembenahan Lembaga pengawasan penegakan hukum seperti komisi Kepolisian, Komisi Kejaksaan agar lebih independent, efektif dan akuntable. Hal ini sebagai upaya memberantas makelar kasus dan mafia peradilan guna mewujudkan mimpi bangsa untuk penegakan hukum yang adil dan berwibawa.

4. Benahi budaya hukum masyarakat melalui pendidikan hukum. Mengingat makelar kasus terjadi tidak hanya bermula dari penegak hukum melainkan juga lemahnya kesadaran hukum yang berakibat pada penyimpangan perilaku masyarakat ketika berhadapan dengan kasus hukum.

5. Peran pers yang merdeka untuk memberikan pencerahan dan keterbukaan informasi terkait dengan penegakan hukum akan sangat bermanfaat dalam rangka pemberantasan makelar kasus dan mafia peradilan.

sumber wacana :
definisi makelar

makelar kasus vs makelar peradilan

rekaman bbc

makelar kasus berkeliaran di KPK

langkah jibaku susno duadji

Senin, 03 Agustus 2009

Akhirnya... (part 1)

Subhanallah, akhirnya q tau apa yang tak q tau...
Alhamdulillah, akhirnya q mengerti apa yang seharusnya q mengerti...
Astaghfir, akhirnya q sadar, apa yang tak q sadari...

Bismillah, smoga stelah ni q bs jalani hidup Q seperti yang dlu lagi

Menjadi HISYAM yang :
CUEK tapi PEDULI
DIAM tapi MENDENGAR
KERAS tapi SABAR

pokoknya bs BE MY SELF

SELAMA PRINSIP Q BENAR DAN Q BS PEGANG ITU, DAN TIDAK MERUGIKAN, IT'S OK ^^


TETAP SEMANGAT, SELALU SABAR, DAN IKHLAS MENGUCAP BASMALAH,,,,

Selasa, 09 Juni 2009

none

Memang,
Pernah Q miliki sbuah angan
Pernah Q punya sbuah asa
Pernah Q coba raih itu
Pernah Q terus berjuang untuk itu

Tp,
Pernah Q simpan angan Q
Pernah Q pendam asa Q
Pernah Q putus asa
Pernah Q berhenti mendekapnya

Namun,
Langkah harus terus berjalan,
Hidup harus terus terlewati,
Detik harus terus berputar,
Jantung harus terus berdetak,

Jadi,
Terus aja miliki angan itu,
Terus aja coba jaga asa itu,
Terus aja raih smua itu,
Terus aja, dan terus melangkah,,,

Jalani hidup,
Dengan sahaja,
Hingga Q temukan,
Apa arti ini smua,
Atau,
Hingga Q temukan,
Malaikat menjemputQ


^^ Tetap tersenyum ^^
Bwt sobat dan AdekQ tersayank

Senin, 04 Mei 2009

Menikahi yg km cinta or mencintai yg km nikahi?

Grabbed from : www.mypulau.com/Ate

"Menikah dengan orang yang kau cintai" Atau "mencintai orang yang kau nikahi"
Suatu kali seorang teman bertanya kepada saya:

“ ada 2 pilihan untukmu.

1. Menikah dengan orang yang kau cintai
2. mencintai orang yang kau nikahi

Mana yang kau pilih?”

Saat itu spontan saya memilih yang kedua: mencintai orang yang saya nikahi (menikahi saya).

“Kenapa?”

Hhm… iya ya, kenapa?

Sebab jodoh adalah hal yang pasti, meski masih menjadi misteri bagi orang-orang yang belum menemukannya. Sedangkan mencintai adalah hal yang berbeda. Mencintai seseorang saat
belum ada hak atasnya, bagaikan menggenggam bara. Jika Allah berkenan
menjadikannya pendamping seumur hidup, maka bara itu akan menjelma menjadi energi untuk eciptakan kebersamaan yang indah. Tetapi, jika Allah tidak berkenan mempersatukan, bara itu akan membakar, dan bisa jadi menghanguskan diri sendiri.

Lebih dari itu, pilihan kedua rasanya lebih aman dari berbagai penyakit hati, yang bisa jadi mengotori niat
suci menikah karena Allah.

Itu jawaban saya saat itu. Tetapi,beberapa jenak setelah itu, saya termenung, mencoba berfikir lebih
dalam dan menyelami jauh ke dalam lubuk hati. Lalu, saya pun meneruskan pertanyaan itu ke temen saya yang lain.

Dan dia menjawabnya sama dengan jawaban saya.
Tetapi, saya ragu atas jawaban itu, benarkah begitu?

Pilihan pertama, menikah dengan orang yang saya cintai, mengalirkan energi dan semangat untuk meraih sesuatu yang menjadi dambaan hati. Dan tentu adalah hal yang sangat menyenangkan bisa berdampingan dengan orang yang dicintai, tidak ragu mengumumkannya kepada public, tidak malu mengekspresikannya, sebab cinta itu sudah dilegalkan.

Pilihan kedua, mencintai orang yang saya nikahi, hhmm… pasrah, menerima nasib. Ah tidak, saya
menterjemahkannya menjadi bentuk syukur kepada-Nya. Sebab apa yang telah Allah pilihkan untuk kita, tentu itulah yang terbaik. Maka, kenapa tidak memaknai rasa syukur itu dengan mengupayakan cinta, menumbuhkan dan merawatnya.

Bukankah jika saat ini saya mencintai seseorang (padahal belum ada hak saya atasnya), itu tidak tumbuh
begitu saja? Ada masa-masa, ada hal-hal, ada peristiwa yang membuat saya mencintainya. Lalu, kenapa hal-hal itu tidak bisa ditumbuhkan kepada orang yang sudah Allah pilihkan untuk saya?

Tetapi, sekali lagi, betapa menyenangkan jika yang pertamalah yang menjadi pilihan, menikah dengan orang yang saya cintai, sebagaimana Fathimah yang menikah dengan Ali, sebagaimana Khadijah yang menikah dengan Muhammad.

Tetapi, kalaupun akhirnya Allah memilihkan orang yang lain, maka pilihan kedua pun bukan hal yang
tidak menyenangkan. Tidak ada yang tidak mungkin. Sebab cinta memang harus diupayakan.

Bagaimana dengan anda? Apakah akan menikah dengan orang yang anda cintai, atau akan mencintai orang yang anda nikahi?

Apa pilihan mu ??????????????????????????
?????????????????????????????????

Senin, 27 April 2009

Ketik 'A'

Ketik 'A' semua asa tlah hilang
Ketik 'A' rasa itu tak terasa
Ketik 'A' ingin Q telah tiada

maka,
ketik 'A' itu pula hidup ini tak berarti apa-apa
ketik 'A' itu pula arah hidup tak tentu
ketik 'A' itu pula hidup trasa tak berujung

namun,
ketik 'A' Q mencoba
ketik 'A' Q berharap kembali
ketik 'A' Q mencari

mungkin,
ketik 'A' itu Q dapat temukan asa Q
ketik 'A' itu Q bisa mrasakan kmbali
ketik 'A' itu Q mulai menata kmbali



SObat,,
ketik 'A' kalian ada dan slalu tersnyum
ketik 'A' itulah hidupQ trasa bgitu brarti


Karena,
ketik 'A' itu Q mrasa mnjadi orang yang beruntung
ketik 'A' Q bs mmbuat sahabat Q bahagia

Dan,
ketik 'A' tu pula Q juga bahagia




NB : Thx ya sobat2Quwh..

Senin, 02 Februari 2009

Misteri Hidup

Hidup ni srasa hampa,,
tanpa adanya tantangan,,
namun,,
ketika kita hadapi anugrah itu,,
kadang kita malah putus asa,,
terkadang,,,
kita malah kcewa,,
kadang kita malah lari,,
arghhh,,
knapa manusia cnderung begitu??
padahal,,
hidup akan srasa mngasyikkan,,
jika kita lalui tantangan tersebut,,
jika kita mau menghadapinya,,,
akankah manusia terus begini???
smoga saja tidak,,
smoga umat manusia segera sadar,,
makna tantangan dalam hidup,,
shingga mreka kan smakin tegar,,
tersnyum mnyongsong hari esok,,
yang misterius,,
karena hidup,,

adalah MISTERI......

by H 154 M ^_~

Cinta itu seperti seseorang yang menunggu bis….

Sebuah bis datang, dan kamu bilang, “Wah…terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! Aku tunggu bis berikutnya saja”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini… nggak mau ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, “Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan”. Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..
Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.
Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju! Dan kamu baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..

Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali- kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak ‘Kiri !’ dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kamu benar-benar menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu.Untuk dia memberi kesempatan kamu masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia. Bis seperti apa yang kamu tunggu ?

Q repost dari email yg d kirim sobat Q,,
apa pendapat kalian??